sekolahpekanbaru.com

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerpen Singkat tentang Sekolah: Potret Kehidupan dalam Ruang Kelas

1. Mentari di Balik Jendela Kelas

Matahari pagi menyelinap melalui celah jendela kelas X-A, menari-nari di atas meja-meja kayu yang sudah lusuh. Aroma kapur bercampur debu tua memenuhi ruangan, sebuah aroma khas yang hanya bisa ditemukan di sekolah. Di salah satu bangku pojok, duduklah Ani, seorang gadis pemalu dengan rambut dikepang dua. Ani selalu datang lebih awal, bukan karena rajin, tapi karena ia takut ketinggalan pelajaran. Ia memegang erat buku catatannya, seolah buku itu adalah satu-satunya teman setianya.

Pagi ini, Ani merasa gugup. Ulangan matematika. Angka-angka itu selalu menjadi momok baginya. Ia sudah belajar semalaman, tapi tetap saja merasa belum siap. Jantungnya berdegup kencang setiap kali ia membayangkan wajah Bu Rita, guru matematika yang terkenal galak.

Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya. “Ani, kok tegang banget?” sapa Budi, teman sebangkunya. Budi adalah kebalikan dari Ani. Ia periang, suka bercanda, dan tidak pernah terlihat khawatir tentang apapun.

“Ulangan matematika,” jawab Ani lirih.

Budi tertawa. “Santai aja, Ani. Kalau bingung, tanya aku.”

Ani tersenyum tipis. Ia tahu Budi hanya bercanda. Budi memang pintar matematika, tapi ia juga suka iseng.

Bel berbunyi, tanda pelajaran akan segera dimulai. Bu Rita masuk ke kelas dengan langkah mantap. Suasana kelas langsung hening. Ani menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ulangan dimulai.

2. Di Balik Papan Tulis Hijau

Papan tulis hijau itu menyimpan banyak cerita. Bukan hanya rumus-rumus fisika yang rumit atau teori-teori sejarah yang membosankan, tapi juga coretan-coretan iseng, puisi-puisi cinta, dan bahkan gambar-gambar lucu yang dibuat saat guru sedang tidak melihat.

Di balik papan tulis itu, tersembunyi pula kisah persahabatan antara Rina dan Sinta. Mereka sudah bersahabat sejak kelas satu SD. Rina adalah seorang atlet lari yang ambisius, sedangkan Sinta adalah seorang seniman yang berbakat. Meskipun memiliki minat yang berbeda, mereka selalu saling mendukung.

Suatu hari, Rina menghadapi masalah besar. Ia mengalami cedera kaki yang membuatnya tidak bisa mengikuti lomba lari tingkat nasional. Rina sangat terpukul. Ia merasa semua impiannya hancur berantakan.

Sinta melihat kesedihan sahabatnya. Ia berusaha menghibur Rina dengan berbagai cara. Ia mengajak Rina melukis bersama, menonton film komedi, dan mendengarkan musik.

“Rina, jangan menyerah,” kata Sinta suatu hari. “Kamu masih bisa melakukan hal lain. Kamu bisa menjadi pelatih lari atau bahkan penulis buku tentang olahraga.”

Rina terdiam. Ia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Ia selalu fokus pada satu tujuan, yaitu menjadi seorang atlet lari profesional.

Sinta tersenyum. “Kamu punya banyak potensi, Rina. Jangan biarkan cedera ini menghentikanmu.”

Kata-kata Sinta membangkitkan semangat Rina. Ia mulai mencari cara lain untuk mengembangkan dirinya. Ia mulai belajar tentang kepelatihan lari dan menulis artikel tentang olahraga.

Beberapa tahun kemudian, Rina menjadi seorang pelatih lari yang sukses. Ia membantu banyak atlet muda meraih prestasi. Ia juga menerbitkan sebuah buku tentang olahraga yang laris manis.

3. Kantin Sekolah: Lebih dari Sekadar Tempat Makan

Kantin sekolah adalah jantung dari kehidupan sosial sekolah. Di sinilah para siswa berkumpul, bercanda, bertukar cerita, dan bahkan merencanakan hal-hal yang tidak-tidak. Aroma bakso, mie ayam, dan es teh manis selalu menggoda selera.

Di salah satu meja kantin, duduklah tiga sahabat: Doni, seorang kutu buku yang selalu membawa novel ke mana-mana; Maya, seorang gadis yang modis dan selalu mengikuti tren terbaru; dan Rio, seorang pemain basket yang populer di kalangan siswi.

Mereka bertiga sangat berbeda, tapi perbedaan itu justru membuat persahabatan mereka semakin kuat. Doni selalu memberikan nasihat yang bijak, Maya selalu membuat suasana menjadi ceria, dan Rio selalu siap melindungi mereka dari orang-orang yang jahat.

Suatu hari, kantin sekolah menjadi heboh karena kedatangan seorang siswa baru bernama Kevin. Kevin adalah seorang anak yang pendiam dan pemalu. Ia selalu sendirian dan tidak punya teman.

Doni, Maya, dan Rio merasa kasihan pada Kevin. Mereka mencoba mendekati Kevin dan mengajaknya bergabung dengan mereka. Awalnya, Kevin menolak. Ia merasa tidak pantas berteman dengan mereka.

Namun, dengan kesabaran dan ketulusan, Doni, Maya, dan Rio berhasil meyakinkan Kevin. Mereka menunjukkan kepada Kevin bahwa ia adalah bagian dari mereka.

Sejak saat itu, Kevin menjadi lebih percaya diri dan berani. Ia mulai bergaul dengan teman-teman sekelasnya dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Ia bahkan menjadi anggota tim basket sekolah.

4. Cinta di Lorong Sekolah

Lorong sekolah adalah saksi bisu dari banyak kisah cinta remaja. Di sinilah para siswa saling bertukar pandang, berpegangan tangan, dan bahkan berciuman secara sembunyi-sembunyi.

Kisah cinta antara Sarah dan Andre dimulai di lorong sekolah. Sarah adalah seorang gadis yang cerdas dan berbakat. Ia selalu mendapatkan nilai bagus di semua mata pelajaran. Andre adalah seorang siswa yang nakal dan suka membuat onar. Ia seringkali melanggar peraturan sekolah.

Meskipun memiliki kepribadian yang bertolak belakang, Sarah dan Andre saling tertarik satu sama lain. Sarah menyukai Andre karena ia selalu jujur dan apa adanya. Andre menyukai Sarah karena ia selalu sabar dan pengertian.

Suatu hari, Andre melakukan kesalahan besar. Ia mencuri uang dari kantin sekolah. Sarah sangat kecewa dengan perbuatan Andre. Ia merasa dikhianati oleh orang yang dicintainya.

Sarah memutuskan untuk menjauhi Andre. Ia tidak ingin lagi berhubungan dengan orang yang tidak bisa dipercaya. Andre merasa sangat menyesal atas perbuatannya. Ia berusaha meminta maaf kepada Sarah, tapi Sarah tidak mau mendengarkannya.

Namun, waktu menyembuhkan segalanya. Setelah beberapa bulan, Sarah mulai melupakan kesalahan Andre. Ia menyadari bahwa ia masih mencintai Andre.

Sarah memutuskan untuk memberikan Andre kesempatan kedua. Ia mengajak Andre berbicara dari hati ke hati. Andre berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.

Sarah dan Andre kembali menjalin hubungan. Mereka saling belajar dari kesalahan masing-masing. Mereka membuktikan bahwa cinta sejati bisa mengalahkan segala rintangan.

5. Perpisahan di Halaman Sekolah

Halaman sekolah adalah tempat di mana para siswa mengakhiri perjalanan mereka di sekolah. Di sinilah mereka mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman, guru, dan semua kenangan yang telah mereka ciptakan bersama.

Hari ini adalah hari perpisahan kelas XII. Semua siswa berkumpul di halaman sekolah dengan mengenakan seragam putih abu-abu yang sudah dicoret-coret dengan tanda tangan dan pesan-pesan perpisahan.

Suasana haru menyelimuti halaman sekolah. Banyak siswa yang meneteskan air mata. Mereka tidak ingin berpisah dengan teman-teman yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri.

Salah satu siswa yang paling sedih adalah Roni. Roni adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh neneknya. Sekolah adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa bahagia dan memiliki teman.

Roni memeluk erat teman-temannya. Ia mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan yang telah mereka berikan kepadanya. Ia berjanji tidak akan melupakan mereka.

“Teman-teman, jangan lupakan aku,” kata Roni dengan suara bergetar. “Aku akan selalu mengingat kalian.”

Teman-teman Roni membalas pelukannya. Mereka juga berjanji tidak akan melupakan Roni. Mereka akan selalu menjadi sahabat selamanya.

Setelah acara perpisahan selesai, para siswa saling berpamitan. Mereka meninggalkan halaman sekolah dengan hati yang berat. Mereka tahu bahwa mereka akan merindukan masa-masa indah di sekolah.